
Ika Yuliana Rochmawati, 24 tahun, perempuan asal Bojonegoro, Jawa Timur ini, menarik tali busur dengan anak panahnya, menahan napas, membidik sasaran, kemudian melesatkan anak panah itu. Hal itu berkali-kali dia lakukan di Lapangan Panahan, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Ika tak memedulikan panasnya sengatan
mentari siang itu. Dia hanya ingin anak panahnya melesat tepat sasaran,
karena falsafahnya bagaimana menjadi lebih baik setiap waktu. “Kalau
gagal, saya selalu ingin tahu bagaimana caranya memperbaiki diri. Kalau
sudah bagus, saya juga terdorong bagaimana tetap mempertahankan kondisi
itu,” tutur pemanah putri andalan Indonesia dalam persiapan menghadapi
SEA Games ke-27 di Myanmar, Desember mendatang.
Saat ditanya targetnya pada pesta
olahraga antarnegara-negara Asia tenggara itu, Ika tak mau sesumbar. Dia
hanya mengatakan ingin bertanding sebaik mungkin untuk mendapai hasil
terbaik pula.
Para pelatih dan Pengurus Pusat Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (PP Perpani) menargetkannya merebut medali emas nomor recurve perorangan putri. Target ini sesuai dengan hasil yang dia capai pada Grand Prix Panahan di Bangkok, 9-15 Maret 2013 lalu.
“Lawan saya berat-berat. Tapi saya berjuang total sehingga bisa memenangkan pertandingan,”� kata Ika saat ditemui Tempo di sela-sela latihan di siang bolong itu. Ika mengaku menekuni olahraga panahan secara total.
Peraih emas SEA Games 2011 ini mengaku
mengenal olahraga panahan sejak berusia 12 tahun. Ibunyalah yang
mengenalkan dia pada olahraga itu. �Awalnya ia mengaku hanya
coba-coba. “Daripada menganggur di rumah dan cuma menonton televisi, apa
salahnya mencoba,”� ujarnya. �”Setelah mencoba, saya keterusan
karena penasaran.”�
Selain meraih meraih emas pada SEA Games
2011, Ika juga berhasil menjadi juara pada SEA Games 2007 dan 2009. Pada
2007, ia memperoleh emas untuk nomor recurve beregu putri dan individu putri. Sedangkan pada SEA Games 2009 ia memperoleh satu emas di nomor recurve beregu putri.
Di arena yang lebih tinggi, Olimpiade
London 2012. Ika sempat masuk 16 besar. Ia mengalahkan unggulan ketiga
asal Cina, Yuting Fan, dalam babak eliminasi untuk masuk 32 besar.
Namun, Ika mengaku perjalanan prestasinya
tak selalu mulus. Ia mencontohkan pada 2008 hingga 2009. Saat itu pada
Olimpiade 2008 di Beijing, Cina, Ika langsung kalah di pertandingan
pertama. Ika juga sempat tak mendapat jatah uji tanding dengan mengikuti
kejuaraan internasional di luar negeri. Ia mengaku hal itu membuatnya
ciut dan hampir menyerah.
“Saya lalu berpikir. Masa karier saya
berakhir dengan prestasi buruk?” katanya mengenang. Berkat dorongan
Endah Sulistyowati, pelatih yang menanganinya sejak awal bergelut dengan
panahan, Ika bangkit kembali. “Beliau yang terus mendampingi saya.”�
Memutuskan untuk tetap menekuni panahan,
Ika mendapat pertanda baik pada 2011. “Saya mendapat tiket ke Olimpiade
2012,”� kata dia. Sejak saat itu, Ika bersemangat lagi menjadi atlet
panahan.
“Prestasi Ika tak lepas dari disiplin
putri sulung dari 3 bersaudara itu. �Dia anak yang patuh,”� kata
Endah. Menurut dia, keberhasilan seorang atlet juga ditentukan oleh
mental yang terbentuk dari kejuaraan-kejuaraan internasional yang dia
ikuti. Endah optimistis Ika bisa berprestasi baik di SEA Games 2013
nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar